Follow : Like : RSS : Mobile :

Pemkab Sambas & Savitri Persembahkan Bujang Nadi Indonesia Modest Fashion Weeks 2019

Foto | Istimewa | Detakjakarta.com

Pada tahun 2013 Kementerian Pendidikan clan Kebudayaan telah menetapkan tenun lunggi sebagai WARISAN BUDAYA TAK BENDA. Dalam perkembangannya, tenun lunggi mendapatkan beberapa kali penghar gaan dari UNESCO yaitu AWARD OF EXCELENT HANDYCRAF I pada tahun 2012 dengan motif MATE AYAM ULAT, TAHUN 2014 dengan motif BUNGE PENYU BETURUS dan MOTIF TABUR BINTANG.

Bujang Nadi adalah seorang putra mahkota yang tampan dan pintar. Savitri menampilkan “Bujang Nadi” untuk mengaktualisasikan pemuda Sambas yang tampan dengan menggunakan tenun lunggi motif bunge tabor, bintang timur, pucuk rebung dan parang mannang . Ketampanan Bujang Iadi semakin lengkap dengan penggunaan Tanjak den Tani Lunasi

Tenun lunggi diperkirakan sudah ada sebelum berdirinya Kesultanan Islam Sambas yang didirikan oleh Sultan Sulaiman I pada tahun tahun 1675 M yang memerin tah selama selama 10 tahun, yaitu sampai dengan tahun 1685, dengan gelar Sultan Muhammad Tsjafiuddin I. Masyarakat Sambas menggunakan tenun lunggi sebagai pelengkap pelaksanaan ritual adat, salah satunya adalah upacara adat perkawinan. Salah satu ciri khas tenun lunggi adalah motif pucuk rebung yang berbentuk segitiga, memanjang dan lancip. Pucuk rebung adalah tunas muda dari tanaman bambu. Adapun makna dari pucuk rebung yaitu sebagai pengingat untuk terus berupaya maju, harus senantiasa berpikiran dan apabila telah mencapai puncak tertinggi, tidak boleh sombong dan arogan sebagai mana sebagaimana pohon bambu yang selalu merunduk ketika telah tinggi

Pada event Indonesia Modest Fashion Weeks 2019 ini PEMERINTAH KABUPATEN SAMBAS bekerja sama designer SAVITRI  mempersembahkan “BUJANG NADI ”. Bujang Nadi berasal dari cerita rakyat Sambas, ia seorang putra Raja Sambas yang benama Tan Unggal.