Follow : Like : RSS : Mobile :

Betawi Bangkit Protes Protokol "hyperinflasionis" Final Piala Presiden 2018

Foto | Istimewa | Detakjakarta.com

David Darmawan, Ketua Umum ormas pemuda Betawi, Jawara Intelektual, Betawi Bangkit, memprotes keras protokol "hyperinflasionis" panitia Piala Prediden 2018 yang melarang Gubernur DKI Jakarta Anies Baswedan untuk turut menyerahkan Piala dan Medali kepada para pemenang, di Gelora Bung Karno (GBK), Minggu (18/2) kemarin.

"Sebagai salah satu ketua ormas Betawi, saya memprotes keras. Dan sebagai anak Betawi kita harus bilang sama orang-orang itu : jangan kurang ajar di kampung kita. Yang namanya Betawi itu tahu adat, tahu sopan santun, tahu saling menghargai. Tapi yang dillakukan panitia kemaren itu tidak santun. Tidak sesuai adat kita", kata David kepada wartawan di kawasan Kuningan, Jakarta, Selasa (20/2).

Terlebih lagi, lanjut David, dalam bidang olah raga dimana sportifitas dijunjung tinggi, sehingga seharusnya dijauhkan dari unsur-unsur politik. "Apalagi namanya olah raga, jangan dijadikan kancah politik, ajang saling membalas sakit hati", ujarnya.

Atas kejadian tersebut menurut David, sudah saatnya dalam setiap event/kegiatan di Jakarta, terlebih berskala besar, untuk selalu melibatkan/ berkoordinasi dengan pemangku budaya, seperti Bamus Betawi ataupun Betawi Bangkit, agar tidak menabrak norma-norma budaya setempat.

"Sudah saatnya hajatan-hajatan di Ibu Kota itu berkoordinasi, baik dengan Bamus Betawi ataupun Betawi Bangkit. Agar tahu, adat istiadat kita seperti apa (tidak menabrak adat istiadat). Ada pengawal budayanya. Sudah waktunya kita mem-betawi-kan (kembali) Jakarta", ungkapnya.

David menilai, meskipun Jakarta merupakan Ibu Kota negara, yang lekat dengan modernisme dan profesionalitas, namun hendaknya akar budaya setempat (masyarakat Betawi) dapat terus dijaga sebagai ciri khas Jakarta.

"Jadilah kita profesional, modern, tapi jangan pernah melupakan ciri khasnya, yaitu masyarakat Betawi", tandasmya.

Bangun Stadion dan Berdayakan Jawara

"Amuk massa" pada final Piala Presiden 2018 di GBK, Minggu (18/2) lalu menyisakan kerusakan cukup besar bagi stadion yang baru selesai direnovasi tersebut.

Untuk mengantisipasi kejadian serupa, Ketum Betawi Bangkit menghimbau, penyelenggara event, utamanya sepak bola, untuk memberdayakan para jawara sebagai peredam pertama. Sebab, jawara sebagai salah satu unsur budaya Betawi, secara emosional akan lebih dekat sehingga lebih mudah mengontrol massa/penonton.

"Saya yakin kalau Jawara yang jaga stadion, gak akan dirusak-rusak. Saya yakin akan aman. Karena kami inikan abang-abangnya mereka", tegas David.

David juga mengajak para JackMania untuk merubah mindset, dan menjadikan olahraga sebagai salah satu alat pemersatu bangsa.

"Konsep kekerasan di olah raga bola itu sudah saatnya dihilangkan. Boleh happy-happy, tapi tidak lantas menjadi holigans, anarkis. Sebagai anak Betawi ini kita hindari. Karena anak Betawi itu taat ibadah. Anak Betawi itu sholat. Jadi kita disiplin. Karenanya, marilah kita bersinergi untuk hal-hal positif. Dengan kerjasama kita bisa merubah mindset itu, agar Jakarta ini lebih membetawi lagi. Jadi Betawi for All, dan All for Betawi", pesannya.

Tak lupa David juga mengingatkan kepada Presiden RI Joko Widodo, Gubernur DKI Jakarta Anies Baswedan, dan Wakil Gubernur Sandiaga Uno akan janji politiknya untuk membangun stadion sebagai markas Persija Jakarta.

"Kita juga mau tagih nih janji pak Jokowi, Gubernur dan Wagub agar Persija pinya stadion sendiri. Kalau bisa diberi nama tokoh Betawi. Misalkan MH Thamrin atau lainnya", pungkas David. (bud/pur)